Susunan Acara Pernikahan Adat Jawa, Sunda, dan Minang
Susunan acara pernikahan adat sering kali baru dipelajari ketika hari pernikahan sudah semakin dekat. Tidak jarang, calon pengantin mendapat penjelasan dari orang tua atau sesepuh keluarga sambil mempersiapkan acara.
Agar tidak perlu mempelajarinya secara mendadak, halaman ini merangkum rangkaian acara yang umum ditemukan dalam tiga adat pernikahan yang banyak digunakan di Indonesia: Jawa, Sunda, dan Minang.
Perlu diingat, rangkaian di bawah merupakan gambaran umum, bukan aturan yang mutlak. Setiap daerah, keluarga, bahkan pasangan pengantin dapat memiliki susunan dan istilah yang berbeda. Gunakan informasi ini sebagai gambaran awal sebelum berdiskusi dengan keluarga atau sesepuh adat.
Rangkaian Pernikahan yang Umum
Sebelum membahas masing-masing adat, secara umum pernikahan biasanya memiliki beberapa tahapan berikut:
Lamaran — penyampaian niat untuk menikah dari pihak calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita.
Pertunangan atau tukar cincin — pada sebagian keluarga dilakukan bersamaan dengan lamaran.
Rangkaian sebelum hari-H — dapat berupa siraman, pengajian, malam henna, atau prosesi adat lainnya.
Akad nikah atau pemberkatan — bagian utama pernikahan sesuai agama dan ketentuan yang berlaku.
Resepsi — acara perayaan dan penerimaan tamu.
Perbedaan antaradat biasanya terlihat pada rangkaian sebelum akad serta prosesi adat setelah akad atau sebelum resepsi.
Adat Jawa
Pernikahan adat Jawa memiliki sejumlah prosesi yang sarat dengan simbol dan makna. Tidak semua keluarga menjalankan seluruh rangkaian, sehingga susunannya dapat disesuaikan dengan kesepakatan keluarga.
Rangkaian Sebelum Hari-H
Perkenalan keluarga
Pertemuan awal antara kedua keluarga untuk saling mengenal dan membicarakan rencana pernikahan. Dalam praktiknya, tahap ini sering dilakukan secara sederhana atau bahkan dilewati.
Lamaran
Pihak calon pengantin pria menyampaikan niat untuk menikah secara resmi kepada keluarga calon pengantin wanita.
Pasang tarub
Pemasangan tarub dan berbagai hiasan sebagai penanda bahwa keluarga sedang mengadakan hajatan pernikahan.
Siraman
Prosesi memandikan calon pengantin menggunakan air yang biasanya dicampur dengan bunga. Umumnya dilakukan menjelang hari pernikahan.
Midodareni
Malam sebelum akad, calon pengantin wanita menjalani prosesi midodareni. Keluarga berkumpul dan memberikan doa serta nasihat sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Hari Akad dan Resepsi
Contoh susunan waktunya:
WaktuAcara08.00Persiapan dan rias pengantin09.00Akad nikah10.00Panggih12.00Resepsi dan ramah tamah
Dalam prosesi panggih, kedua pengantin dipertemukan dan menjalani beberapa tahapan adat, antara lain:
Balangan suruh — kedua pengantin saling melempar daun sirih sebagai bagian dari simbol prosesi.
Wiji dadi — pengantin pria memecahkan telur, kemudian kakinya dibasuh oleh pengantin wanita.
Sinduran — kedua pengantin berjalan bersama dengan diselimuti kain sindur oleh orang tua.
Timbangan — pengantin duduk di pangkuan ayah sebagai bagian dari prosesi simbolis.
Kacar-kucur — pengantin pria menuangkan berbagai biji-bijian atau perlengkapan simbolis kepada pengantin wanita.
Dulangan — kedua pengantin saling menyuapi.
Sungkeman — kedua pengantin memohon doa dan restu kepada orang tua.
Catatan: Prosesi panggih dapat berlangsung cukup lama, terutama jika beberapa tahapan dijalankan secara lengkap. Karena itu, sebagian keluarga memilih melaksanakan prosesi adat secara terbatas untuk keluarga, kemudian membuka resepsi untuk tamu undangan.
Adat Sunda
Pernikahan adat Sunda juga memiliki sejumlah prosesi khas yang dilakukan sebelum dan sesudah akad. Rangkaian dapat berbeda menurut daerah dan kebiasaan masing-masing keluarga.
Rangkaian Sebelum Hari-H
Neundeun omong
Pembicaraan awal antara kedua keluarga mengenai rencana hubungan dan pernikahan.
Narosan atau lamaran
Prosesi melamar secara resmi, yang biasanya disertai dengan membawa seserahan.
Ngecagkeun aisan
Prosesi simbolis yang menggambarkan orang tua melepas tanggung jawab dan memberikan kepercayaan kepada anak untuk membangun rumah tangga.
Siraman
Prosesi mandi dengan air yang dicampur bunga sebagai bagian dari persiapan sebelum pernikahan.
Ngeuyeuk seureuh
Prosesi yang biasanya dilakukan menjelang akad dan berisi nasihat serta simbol-simbol kehidupan berumah tangga dari orang tua atau sesepuh keluarga.
Hari Akad dan Resepsi
Contoh susunan waktunya:
WaktuAcara08.00Persiapan dan rias pengantin09.00Akad nikah10.00Sawer panganten10.15Meuleum harupat10.30Nincak endog10.45Buka pintu11.00Huap lingkung12.00Resepsi dan ramah tamah
Beberapa prosesi yang umum dilakukan antara lain:
Sawer panganten — orang tua menaburkan beras, uang, dan perlengkapan simbolis lainnya kepada kedua pengantin.
Meuleum harupat — pengantin pria membakar harupat yang kemudian dipadamkan oleh pengantin wanita.
Nincak endog — pengantin pria memecahkan telur dan kemudian kakinya dibasuh oleh pengantin wanita.
Buka pintu — kedua pihak melakukan dialog atau berbalas pantun sebelum pengantin memasuki rumah.
Huap lingkung — kedua pengantin saling menyuapi dan kemudian mendapat suapan dari orang tua.
Hal yang perlu diperhatikan
Beberapa prosesi Sunda, terutama buka pintu, menggunakan dialog atau pantun dalam bahasa Sunda. Jika prosesi ini akan dilakukan, sebaiknya tentukan sejak awal siapa yang akan menjadi pemandu atau juru bicara agar tidak terjadi kebingungan saat acara berlangsung.
Adat Minang
Pernikahan adat Minang memiliki karakteristik yang berbeda dari Jawa dan Sunda. Salah satu cirinya adalah sistem kekerabatan matrilineal, sehingga sejumlah prosesi pernikahan melibatkan keluarga dari pihak wanita secara kuat.
Seperti adat lainnya, rangkaian dapat berbeda menurut daerah dan keluarga.
Rangkaian Sebelum Hari-H
Maresek
Keluarga pihak wanita melakukan penjajakan atau perkenalan dengan keluarga pihak pria.
Maminang atau batimbang tando
Prosesi meminang yang dapat disertai dengan pertukaran tanda sebagai simbol kesepakatan.
Mahanta siriah
Prosesi menyampaikan kabar dan meminta izin atau restu kepada kerabat serta sesepuh keluarga.
Babako-babaki
Keluarga dari pihak ayah memberikan bantuan dan dukungan untuk persiapan pernikahan.
Malam bainai
Prosesi memberikan inai pada tangan calon pengantin wanita sebagai bagian dari rangkaian menjelang pernikahan.
Hari Akad dan Resepsi
Contoh susunan waktunya:
WaktuAcara08.00Persiapan09.00Manjapuik marapulai10.00Akad nikah11.00Basandiang12.00Baralek
Manjapuik marapulai merupakan prosesi penjemputan pengantin pria oleh pihak keluarga wanita.
Setelah akad, kedua pengantin dapat menjalani prosesi basandiang, yaitu duduk bersanding di pelaminan.
Selanjutnya, acara baralek menjadi bagian dari perayaan dan penerimaan tamu.
Tamu Datang Bergelombang
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan baralek adalah pola kedatangan tamu. Dalam beberapa pelaksanaan, tamu dapat datang secara bergantian sepanjang acara, terutama dari kalangan keluarga, tetangga, dan kerabat.
Hal ini perlu dipertimbangkan ketika menyiapkan konsumsi. Jumlah makanan dan minuman sebaiknya disesuaikan dengan pola kedatangan tamu, bukan hanya berdasarkan satu sesi kedatangan.
Bagaimana Menuliskan Acara Adat di Undangan?
Tidak semua rangkaian adat perlu dimasukkan ke halaman utama undangan. Tamu biasanya hanya perlu mengetahui acara yang memang mereka hadiri, waktu, dan lokasinya.
Jika akad dan resepsi berlangsung di hari yang sama
Contohnya:
Akad Nikah
Sabtu, 14 Juni 2027 · 09.00 WIBResepsi
Sabtu, 14 Juni 2027 · 12.00–15.00 WIBGedung Graha Sejahtera
Jl. Merdeka No. 10, Bandung
Jika akad dan resepsi berbeda hari atau tempat
Tulis masing-masing acara secara terpisah dan jelas. Hal ini membantu mengurangi risiko tamu datang ke lokasi atau waktu yang keliru.
Jika tamu hanya diundang ke resepsi
Sampaikan secara langsung bagian acara yang ditujukan kepada mereka.
Bapak/Ibu dengan hormat kami undang untuk hadir pada acara resepsi pernika
Mulai gratis, pilih tema, dan bagikan lewat WhatsApp dalam hitungan menit.